Minggu, 10 Juli 2011

Sekar Pembayun Binti Panembahan Senapati

Pengorbanan Anak

Pada Orang Tua

Kisah ini dipetik dari Babad Mangir yang merupakan salah satu dari sekian banyak peninggalan sastra Jawa. Intinya adalah perseteruan antara Perdikan Mangir dan Kerajaan Mataram. Persisnya antara Panembahan Senopati, Raja Mataram, dengan Ki Ageng Wanabaya, penguasa Perdikan Mangir.

Ketika Majapahit runtuh pada tahun 1527, Jawa menjadi daerah yang tidak bertuan dan tidak mengenal satu kekuasaan tunggal. Pada saat yang bersamaan pula Wali Sanga mulai menyebarkan Islam melalui Pesisir Utara dan sementara Portugis telah datang pula ke Sunda Kelapa.

Kekuasaan yang tidak terpusat dan tersebar di seluruh Jawa tersebut, menyebabkan keadaan kacau balau. Terjadi isyu, fitnah dan perang yang berkepanjangan di berbagai tempat yang pada muaranya adalah memperebutkan posisi sebagai penguasa tunggal. Pulau Jawa waktu itu dikabarkan memang bermandikan darah.

Dalam situasi tidak terkendali seperti itu, di banyak tempat di Pulau Jawa muncul daerah-daerah kecil (desa) yang berbentuk perdikan (bebas pajak). Pada umumnya daerah-daerah tersebut mempunyai otonomi yang cukup besar dalam menjalankan pemerintahan. Dari desa-desa itu pula muncul tokoh-tokoh yang dianggap sakti, berkuasa, kaya, berasal dari keluarga bangsawan yang dengan kelebihannya itu digelari atau menyebut dirinya “Ki Ageng”.

Adalah Ki Ageng Pamanahan yang karena berjasa kepada Sultan Pajang Hadiwijaya kemudian dianugerahi hutan Mentaok yang kemudian bernama Mataram. Dialah yang mendirikan Kota Gede pada tahun 1577 yang kemudian menjadi ibu negeri Mataram. Setelah meninggal, ia digantikan oleh anaknya, Panembahan Senopati. Namun pada saat bersamaan muncul pula sebuah daerah Perdikan Mangir dengan pemimpinnya yang bernama Ki Ageng Mangir Wanabaya. Tokoh yang dikabarkan sakti ini mempunyai senjata ampuh yang disebut Kyai Baru Klinting.

Perebutan pengaruh dan kekuasaan – seperti telah dikemukakan – memang sedang berlangsung di mana-mana. Demikian pula antara Mangir dan Mataram. Hal ini sangat dimungkinkan karena letak Perdikan Mangir dan Mataram relatif berdekatan, sekitar 30 km. Persaingan antara dua kekuasaan tersebut menjadi tidak terelakkan lagi, terutama karena janji Ki Ageng Pamanahan kepada Joko Tingkir untuk menguasai Mataram sepenuhnya, di mana Mangir termasuk di dalamnya.

Karena penguasa Mangir dikenal sakti, rupanya Panembahan Senopati, yang dikenal akhli strategi, tidak mau gegabah begitu saja menyerang dengan kekuatan militer yang pada saat awal Mataram berdiri memang masih sangat terbatas. Untuk dapat menaklukkan saingannya itu, Senopati dikisahkan menyuruh anak perempuannya, Putri Sekar Pembayun, untuk merayu Ki Ageng Mangir Wanabaya.

Sekar Pembayun, yang rupanya patuh kepada ayahnya, berupaya mencari cara uagar bisa mendekati penguasa Mangir itu. Cara terampuh yang diketemukan waktu itu adalah dengan membentuk kelompok sandiwara keliling (semacam ketoprak) dan dia sendiri sebagai penarinya.

Setelah berlatih secukupnya sehingga terlihat sebagai kelompok sandiwara yang benar-benar, maka Sekar Pembayun dan rombongan berangkat menjalankan misinya. Mereka menggelar tontonan dari suatu tempat ke tempat lainnya dan akhirnya tibalah mereka tanpa dicurigai di istana / kediaman Ki Ageng Mangir Wanabaya.

Ki Ageng Mangir Wanabaya yang menonton rupanya terpesona oleh kecantikan Sekar Pembayun. Ia pun lantas meminang sang puteri. Sebagai penguasa tradisional Jawa waktu itu kekuasaannya tidak ada yang boleh menolak, demikian pula Sekar Pembayun pun lalu menjadi isteri (entah ke berapa) dari Ki Ageng Magir. Apakah saat itu Ki Ageng Mangir Wanabaya tahu atau tidak mengenai siapakah sebenarnya Sekar Pembayun dan apa misinya, tidak ada berita yang jelas.

Setelah beberapa saat rupanya Senopati menagih janji kepada anak perempuannya itu. Sekar Pembayun pun lalu dipanggil pulang. Kepulangan Sekar Pembayun diiringi oleh suaminya.

Namun saat sampai di Mataram, Ki Ageng Mangir Wanabaya justru dibunuh. Kepalanya dibenturkan di watu gilang. Jasadnya dikebumikan di komplek pemakaman Sapto Renggo, Kotagede, 5 km dari pusat kota Yogya[1].

Tidak diketahui bagaimana nasib Sekar Pembayun selanjutnya. Apakah ia ikut mati atau terus menjanda ataukah kemudian kawin lagi. Juga tidak dijelaskan apakah Sekar Pembayun benar-benar mencintai suaminya dan demikian pula sebaliknya.

Hikmah yang dapat ditarik dari cerita dalam babad ini antara lain adalah :

· Pengorbanan anak gadis untuk orang tuanya yang menjadi penguasa menyebabkan cinta atau tidak bukan lagi menjadi prioritas.

· Pengorbanan tersebut di atas menjadi makin memuncak manakala suaminya – mungkin akhirnya suami isteri tersebut saling mencinta - tewas oleh orang tuanya sendiri.

Sumber :

· www mangir itgo com., 2003



[1] Makam Sapto Renggo atau Makam Kotagede saat ini merupakan salah satu dari berbagai obyek wisata yang ada di lingkungan Kraton Yogyakarta. Di komplek ini terdapat makam Ngabehi Loring Pasar Sutawijaya (Panembahan Senopati), Kiai dan Nyai Ageng Pemanahan (orangtua Panembahan Senopati), Ki Ageng Mangir (menantu sekaligus musuh Panembahan Senopati). Yang aneh adalah lokasi makam Ki Ageng Mangir tersebut. Separoh bagian dari makam Ki ageng Mangir terletak dalam bangunan gedung pemakaman keluarga kerajaan, sedangkan setengah bagian lainnya terletak di luar. Dalam komplek tersebut, yaitu 100 meter dari lokasi makam, terdapat ‘Watu Gilang’, yang dipercaya merupakan lantai singgasana Panembahan Senopati. Makam kerajaan di Kotagede tersebut dapat dikunjungi pada hari Jumat sejak pukul 13.00-17.00 WIB (www mangir itgo com., 2003)

4 komentar:

  1. Berapa banyak orang Jawa yang terjebak cerita tendensius Ki Ageng Mangir, padahal Ki Ageng mangir adalah seorang mualaf yang sangat tinggi ilmunya, Pengislamanya menjadi kacau balau dengan adanya cerita pembunuhan dirinya oleh Kanjeng Panembahan Senopati, sehingga yang timbul adalah kepengecutan P.Senopati, padaha Mangir terbunuh oleh konspirasi yang tidak ingin kekuatan Mataram berkembang dengan adanya Mangir dalam jajaran kekuatan Mataram. Mangir memang terbunuh oleh batu gatheng dari belakang dengan kepala pecah, tetapi bukan oleh P Senopati melainkan oleh P.Ronggo.Ada banyak versi tentang Ki Ageng Mangir dan Kanjeng Ratu Roro Sekar Pembayun, namun kami dari pihak trah Mangir mempunyai versi yang sangat berbeda dari versi yang selama ini tercerita , baca blog kami http://pembayun-mangir.blogspot.com/ , akan anda temui kejuatan sesungguhnya trah Mangir adalah trah yang sangat mempersiapkan diri untuk menjadikan keturunannya tokoh pemimpin terbaik bangsa ini dimasa yang akan datang

    BalasHapus
    Balasan
    1. blog anda tidak ada ada postingan http://pembayun-mangir.blogspot.com/, mohon informasi mengenai trah mangir email saya oksimana7@gmail.com, terima kasih

      Hapus
  2. Tulisan yang menarik, kunjungi blogku juga ya pak.bu, mas dan mbak!. Tak ada yang lebih menyedihkan dan mengharukan dari kisah Mangir pembayun, seperti juga ketika saya bersimpuh di makam Pembayun di Kebayunan Tapos Depok Jawa Barat, bersebelahan dengan makam anaknya Raden Bagus Wonoboyo dan makam Tumenggung Upashanta, kadang sebagai trah Mangir, aku merasa bahwa akhirnya mataram dan mangir bersatu mengusir penjajah Belanda di tahun 1628-29, cobalah cermati makam cucu Pembayun yang bernama Utari Sandi Jayaningsih, Penyanyi batavia yang akhirnya memenggal kepala Jaan Pieterz Soen Coen pada tanggal 20 September 1629, setelah sebelumnya membunuh Eva Ment istri JP Coen 4 hari sebelumnya, kepala JP Coen yang dipenggal oleh Utari inilah yang dimakamkan di tangga Imogiri, Spionase mataram lagi lagi dijalankan oleh cucu Pembayun dan ki Ageng Mangir, informasi buka http://kelompok-tani.com : pahlawan kali sunter.

    BalasHapus
  3. alam kenal, tulisan yang informatif dan menarik, baca blogku juga yaa!!Roro Pembayun adalah buah hati dan kesayangan Kanjeng Panembahan Senopati Mataram, Perjuangannya meruntuhkan hati Ki Ageng Mangir dan menjadikan Mangir sebagai kekuatan baru di Mataram membuat para adipati yang memberontak pada Mataram kuatir dan menyusun kekuatan dalam istana Mataram di Kotagedhe untuk membunuh Ki Ageng Mangir, dan itu bisa terlaksana oleh kesaktian Raden Ronggo putra Panembahan Senopati yang lain, Ki Ageng Mangir wafat di tempat Panembahan Senopati biasa shalat, ya diatas watu gilang (yang bukan singgasana raja) lah tempat wafatnya Ki Ageng Mangir. Watu Gatheng sebagai alat bukti sampai sekarang masih terlihat disamping Watu Gilang . Meski suami tercintanya telah meninggal Roro Pembayun adalah sosok pejuang yang tak kenal menyerah, diesarkan anaknya Bagus Wonoboyo dan bersamanya ikut berjuang di palagan Matraman Jatinegara bersama dengan Pangeran Jayakarta sampai wafatnya di Jatinegara, jenazahnya dimakamkan di Kramat Kebayunan Tapos Depok. http://pahlawan-kali-sunter.blogspot.com/

    BalasHapus